... DAKWAH > untuk Kemajuan diri dan Ummat I Qur'an > jantungnya Surat Yaasin I Masjid > jantungnya masyarakat Islam I Shalat berjamaah > jantungnya masjid I Silaturahmi > jantungnya umat Islam I Dakwah > jantungnya agama I Pengorbanan > jantungnya dakwah I Musyawarah > jantungnya pengorbanan I Sami'na wa atha'na > jantungnya musyawarah I Dakwah > maksud hidup I Hidup > dakwah I Dakwah > sampai mati I Mati > dalam dakwah I La ilaaha illallah muhammadur rasulallah ....

Showing posts with label KARGOZARI. Show all posts
Showing posts with label KARGOZARI. Show all posts

Tuesday, 26 January 2016

Kaki Anak-Anak Masuk Masjid

Hari ini, kami baru pulang nisab 3 hari. Di sebuah masjid tetangga. Masjid besar dengan jamaah yang sudah makmur. Masjid yang mengutamakan kebersihan. Masjid ummat yang dibangun oleh pemerintah. Ada 1000 kepala keluarga di tempat itu.  Namun, nasibnya sungguh mengkhawatirkan. Beberapa Ahbab tempatan yang sudah pernah 3 hari banyak yang malu-malu. Yang sudah pernah 40 hari juga sama.

Syukur, Alhamdulillah akhirnya, kami juga sampai di sana. Kami memulainya dari hari Sabtu. 3 orang saja. Sudah sering kami begitu. 3 orang, asal semuanya mau turun-naik gantian 'bayan,' semuanya siap jadi mutakkallim, kuat amal, pasti jadi. Karena Allah bersama kami.

Kami emang agak 'gembel.' cukup dengan 2 suprah, 2 nampan, gelas plastik seadanya, ditambah rice cooker, sudah bisa jadi alat hidmat andalan. Kami menghindari banyak minum kopi, atau minuman ringan lainnya, agar lebih mujahadah. Teko plastik juga enggak dibawa. Pokoknya seringkas mungkin. Bahkan kami tidak pakai matras -- apalagi kasur. Juga tidak dengan "jaring anti nyamuk." bahkan, sengaja tidak pakai 'obat nyamuk oles dan sejenisnya,' agar mudah bangun tahajjud-nya. Nyamuk? Mana ada di Jakarta yang enggak ada nyamuknya. Pasti ada.

Hari pertama akhirnya nambah satu orang. Hari berikutnya juga sama, nambah satu orang lagi. Sayangnya orang tempatan, masih malu-malu. Akhirnya hanya banyak anak-anak kecil. Kira-kira ada 7 orang yang sering berjamaah.

Anak-anak ini rupanya ada masalah hafalan. Tak ada satu pun dari mereka yang hafal Qur'an. Bahkan setingkat Juz' amma, jarang yang bisa mengaji. Akhirnya mereka kami ajarkan do'a ilham. Sudah bolak-balik, mereka juga belum hafal. Rata-rata mereka semua tingkatan SD. Hanya satu orang yang SMP. Do'a ilham berguna untuk menghadapi ujian sekolah. Syaratnya harus belajar sungguh-sungguh. Nah, waktu ujian, harus banyak istirahat. Tinggal baca do'a ilham, agar mereka jadi ingat apa yang mereka pelajari sebelumnya.

Tapi dengan hati yang tulus, niat yang bersih, alhamdulillah mereka semua sudah hafal. Tapi bareng-bareng. Kompak banget. Kalau sendirian. Diuji satu demi satu, masih berantakan hafalannya. Hanya 2 orang yang hafal (cerdas). Hari ke-dua, kami ajari do'a masuk masjid. Dan harus pakai kaki kanan. Kalau pakai kaki kiri, berarti belum ngerti agama. Keluar masjid, harus dengan kaki kiri. Juga ada do'anya.

Setelah pelajaran soal do'a masuk masjid, esok harinya anak-anak itu rupanya duduk di depan pintu masjid. Mereka akan menebak setiap ada yang masuk masjid pakai kaki yang mana. Ada orang tua yang masuk ke masjid, rupanya anak-anak itu langsung protes. Kok, ada yang masuk ke masjid pakai kaki kiri. Ketika ia tanyakan kepada saya, saya jawab, mungkin saja mereka lupa.  

Tak lama ada 1 dari 7 orang anak yang masuk ke masjid. Tapi kaki kiri terlebih dahulu. Lalu saya perintahkan keluar dahulu, lalu masuk lagi pakai kaki kanan. Dengan malu-malu, anak itu akhirnya mau melakukannya.

Setelah kejadian itu, rupanya mereka ingin "balas dendam." Setiap orang yang 'bergamis' di antara kami diperiksa apakah pakai kaki kanan, atau kiri dahulu kalau masuk masjid. Termasuk saya, mereka langsung amati. Alhamdulillah ga ada satu pun dari ahbab yang I'tikaf masuk ke masjid dengan kaki kanan. :) Barang kali alasannya 2 hal; Pertama, kami mengajarkan dengan mencontohkan. Kedua, kami memuliakan masjid. Di rumah Allah mana pun, kami insya Allah pakai kaki kanan. InsyaAllah..

Mulai sekarang, anak-anak di daerah itu, insya Allah akan melangkah ke tempat kebaikan, dengan kaki-kaki mungil mereka sebelah kanan. Bagaimana dengan bapak2nya?




Monday, 4 May 2015

Kerja Untuk Allah Swt

Rombongan jamaah telah pindah keluar dari halaqah. Dan kini, tiba untuk tunaikan nisab 3 hari. Aku terpisah dari Al-Hikmah Group. Sendirian, mencari siapa pun yang nisab minggu awal ini. Ahaa… ternyata dengan group Pak Amir Darwis.

Singkat cerita, kami ada 7 orang di masjid sebut saja al-Ilmi. Ternyata hanya beberapa kilometer saja dari rumahku. Dengan motorku, cukup 15 menitan saja. Al-Ilmi sebuah masjid milik ustad ternama di kecamatan kami. Nama ustad ini sudah tidak asing. Syukur, dia sudah simpatik dengan usaha dakwah ini. Masjidnya juga unik. Mirip rumah Joglo di Jogja. Tanpa pintu tanpa jendela.


Di al-Ilmi memang terkenal banyak orang Betawi yang sudah “ngaji.” Jadi medannya banyak orang yang pinter baca Qur’an, pinter baca kitab. Aku melihat rata-rata tatapan mereka sinis terhadap dakwah kami. Ketika ta’lim Dzuhur dan ta’lim Ashar, beberapa jamaah ada yang menegur kami. Seakan kami ingin “merebut” masjid saja. Kesannya memang begitu. Bahkan pak RW juga hadir di situ penuh sindiran kepada kami.


Memang, di al-Ilmi sudah banyak kegiatan masjid. Alhamdulillah jika kami tidak perlu repot-repot untuk bayan Magrib dan bayan Subuh. Tanggapan rombongan bermacam-macam. Ada yang kurang terima, dengan perlakukan jamaah yang dingin. Bahkan ada seorang imam Rawatib yang selalu mengamati gerak-gerak kami. Satu demi satu setiap tas jamaah dilihatin terus. Dengan perlakuan itu, seakan ada boikot dari masing-masing petinggi. Dakwah tidak didengar. Bagiku seakan mereka menilai kami gerombolan orang bodoh yang mengambil jalan yang sia-sia.


Sebenarnya, aku ingin sekali bayan. Beberapa kitab kuning yang mereka baca, ingin kuhempaskan dalam bayan. Agar mereka paham, kalau kitab yang mereka agung-agungkan, ras Betawi yang mereka banggakan, dan tradisi maulid Nabi yang mereka baca hanya sampai tenggorokan saja. Aku memang bukan jagonya, tapi soal maulid Nabi, aku hafal dan tau artinya. Beda banget dengan mereka-mereka yang hanya sebatas “lidah tanpa makna.” Setelah musyawarah pagi, aku sekali mendapatkan jatah itu. Namun, secara etika pasti nggak boleh minta tugas, kecuali petugas hidmad. Aku hanya kebagian Taqrir menjelang Magrib. Dan kami sepakat mengikuti agenda semua kegiatan masjid. Suasana dan keadaan memang sudah Allah Swt tentukan. Memang, sudah hampir empat tahun, tak pernah ada jamaah tabligh yang masuk ke al-Ilmi. Alhamdulillah setidaknya tahun ini, kami bisa tembus, hadir di situ.


Dalam dakwah memang harus bersatu padu. Apa pun bentuk dakwah, perlu di dukung. Walau kegiatan dakwah tempatan masjid itu hanya sebatas, menghidupkan masjid. Ustad yang ternama itu, juga hampir tidak terlihat dalam sholat berjamaah.


Kami tidak punya target taskilan. Juga tidak ada pikir untuk membuat maqomi di tempat itu. Kami memang lemah ilmu. Amal-amal kami juga lemah. Namun setidaknya, kami punya keyakinan. Hanya modal yakin, kalau Allah Swt maha pengampun. Dengan jerih payah kami, setidaknya ada suasana yang menghangatkan kampung dengan para orang-orang khowas di situ.


Jelang malam terakhir. Hatiku masih terusik dengan perlakuan orang-orang tempatan. Kami memang biasa diusir dan terusir oleh saudara sendiri sesama muslim. Namun, apa guna kami tidur di masjid itu berhari-hari. Nyamuk Jakarta yang memang sudah terkenal, juga mengganggu khusuknya Tahajud kami. Tidur di rumah sendiri lebih nyaman pastinya, dan lebih bebas. Barangkali, baru sebatas inilah yang kami korbankan untuk tegakkan agama-Mu ya Allah... Mengingatkan sesama saudara muslim yang lupa pentingnya ibadah kepada Allah.


Kami kerja untuk Allah Swt. Tidak peduli bagaimana lagi hasil pengorbanan, yang terlalu kecil jika dibandingkan para sahabat Nabi. Tidak sudi menerima bayaran di dunia yang tidak seberapa. Ya Allah… terimalah nisab kami bulan ini. Selalu ada rintangan yang akan menguatkan dakwah kami. Jika Allah Swt  kehendaki seluruh kampung di al-Ilmi jadi taat, itu akan mudah saja. Namun, biarkan kami yang mengubahnya. Berikanlah kesempatan, ya Rabb. Kami mohon ampun atas segala kesalahan, kelemahan yang telah kami perbuat..

    



Saturday, 18 April 2015

Al-Hikmah As-Syuhada

Rombongan jamaah gerak 1 tahun sudah sampai di halaqah Kodja. Ketika hari pertama di al-Hikmah, suasana dakwah memanasi wilayah Semper. Tempat maqami kami seakan tidak siap. What ever. Akhirnya tetap bandel, meski sudah ada orang tempatan yang menguji kesabaran dan keikhlasan kami, amir rombongan tetap bertahan di situ. Amir Darwis, Sang jumidar tadi pagi sampai turun tangan menengahi masalah kehadiran jamaah. Saat wajahku pagi tadi hadir di sana, bapak tua itu langsung cerah. Allah Swt yang kuasa atur segalanya.

Hari pertama jaulah ini, taqrir diisi oleh jamaah dari Sukabumi yang keluar dari Kebon jeruk. Barisan depan, diisi oleh anak-anak umuran SD. Kira-kira 13 orang. Aku hanya berjejalan di antara gelak tawa bebas anak-anak itu. Petugas taqrir terus melanjutkan dengan gayanya yang kocak. Seakan anak-anak itu, terhibur dengan dongeng televisi. Namun, ketika ditanya apakah mereka sudah shalat Asar? Ternyata belum. Semuanya tunjuk tangan, kalau belum sholat. Astagfirullah.. Padahal 15 menit lagi Maghrib datang menyapa. Aku hampir sakit perut melihat mereka langsung sholat Ashar saat itu juga.

Seusai jaulah, aku langsung lompat ke motor Udin. Kami berdua langsung ke As-Syuhada untuk jaulah dua. Beberapa rombongan gabungan dari at-Taqwa keluar di tempat itu. Maghrib malah diisi dengan kargozari seorang ahbab yang baru saja pulang belajar dari Afsel. Menarik. 1,8 tahun ia habiskan di sana untuk belajar tahfidz. Niatnya setelah IPB, ia akan kembali ke negeri yang minoritas Islam di sana.

Selesai kargozari, masih tersisa sekitar 20 menit, kami kembali lagi ke al-Hikmah. Masih banyak program yang perlu di-nusrohi. Alhamdulillah. Katanya saat bayan Maghrib tak satu pun orang tempatan yang ada di sana. Malam ini jamaah gerak akan lebih lama, lebih panjang untuk sholat malam. Minta ampun atas segala amal, dan kekeliruan dalam kerja dakwah ini.

Saat tangan ini menari di atas keyboard, mudah-mudahan 13 orang anak-anak tadi, jadi da’i semua. Walau sholat Asharnya sudah di tepi pergantian waktu. Mudah-mudah, 13 sifat da’i yang tadi di-mudzakarah-kan, bisa lebih diingat dan bisa diwujudkan. Kabulkan ya Allah.

Al-Hikmah As-Syuhada. Kedua benteng terakhir di ujung Semper.
      
Wallahu a’lam bi ash-shawab.



Monday, 6 April 2015

Jadilah pelengkapku

Dengan rasa rendah diri, tahaddus binni’mah, aku hanya ingin cerita, kalau potensi kita bisa dilesatkan hingga luar batas. Kuncinya berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi rintangan, dan tetap menjadikan do’a sebagai senjata utama.

Saat ini, aku berhasrat untuk meneguhkan dakwah dengan memperkaya hafalan Qur’an. Niat juga ke negeri jauh. Hasrat itu sama seperti ketika Nabi Musa As harus menghadapi Fir’aun. Ia dibantu istrinya, Shafura. Meski bukan dengan terjun secara langsung. Peran Shafura membuat semakin yakin apa yang dibawa Nabi Musa As soal risalah kenabian adalah benar.

Alhamdulillah.. seperti jaminan-Nya, “barang siapa yang bersungguh-sungguh dalam mengejar hidayah, maka akan kami tunjukkan jalan-jalan kami.” Aku ingin sekali nambah hafalan, seperti obsesiku yang pertama tadi. Awalnya, kupikir, kalau di Jakarta rasanya sukar. Hampir semua orang tahu, bagaimana kesibukan Jakarta setiap harinya.  One day, aku Jaulah dua di mushallah As-Syuhada. Mushallah kecil yang kalau hujan, tinggi airnya pasti se-lutut. Kira-kira 14 tahun lalu aku juga pernah taklim di tempat ini. Ini yang ketiga kalinya jaulah dua di mushallah yang berdekatan dengan rumah ustad Nur Ali. Magrib menyapa, teman-teman yang lain dari al-Hikmah masih belum juga terlihat. Ternyata memang benar tidak hadir. Jaulah umumi dibatalkan.

Selepas magrib, aku masih bertahan di tempat itu. Ada sekitar 5 orang anak-anak yang membuka Qur’an berdiam di sana. Mereka mengaji dengan ustad Nur ali. Setelah kuperhatikan 2 dari 5 orang itu, ternyata anak ustad. Aku memang orang baru di mata mereka. Anak-anak itu tampak kaku. Mungkin dalam benaknya, ia meragukan kalau tampangku yang asing. “Kok orang cina ngajarin kita ngaji.” Setelah ustad menyuruh anak-anaknya mau ngaji padaku, wajahku jadi tambah bersinar…

Salah seorang dari mereka maju menyodorkan Qur’an. Dua orang anak lainnya yang sudah agak besar, malah tampak tak bersahabat.
“Jika kamu nggak mau ngaji, harus setoran!!,” tawarku pada dua anak itu.
Mereka bingung. Semakin diam. Mulut semakin rapat terkunci.
“Kalau nggak mau setoran, saya aja yang setoran,” ucapku lagi.
“Kita mulai dari al-Baqarah!,” ajakku lagi.

Aku pun mulai menyetor hafalan pada mereka. Beberapa di antaranya, ada yang menyimak sambil membuka Qur’an. Ada juga yang hanya menyimak saja. Setelah kira-kira 60 ayat, mereka inginkan aku berhenti. Aku berhenti. Salah seorang anak, langsung gantian yang menyetor. Dari ayat pertama hingga 50-an. Satu demi satu akhirnya anak-anak itu mau setoran. Mereka mulai mencair. Zidan, Ni’am, Yusuf, dan kawan-kawan selesai saat adzan berkumandang. Batinku masih sangat bersyukur kalau anak-anak ini yang turut membantu hafalanku bertambah. Untuk beberapa waktu, jika tidak jaulah, mereka sahabat kecilku para penghafal Qur’an. 

Satu jalan visiku untuk menghafal sudah terbuka. Jalan dakwah, istriku masih kupersiapkan agar bisa sama menopang. Minimal bisa keluar masturah 15 hari. Aku butuh asisten, partner yang bisa men-support untuk membantu istriku ini. Ukhti.. dirimu lah yang barangkali yang paling pantas. Bermusyawarahlah dengan Allah Swt, seperti Zainab binti Jahsy, ketika dilamar oleh Rasulallah Saw. Menjadi yang kedua, tampaknya butuh keikhlasan yang tinggi. Apalagi kuminta minimal 2 juz sebagai bahan yang melegakan hatiku. Hanya iman yang kokoh yang mampu setulus para sahabiyah. Jadilah pelengkapku. Cintai aku hanya karena Allah..

Wallahu a’lam bi ash-shawab.



Friday, 3 April 2015

Kesuksesan di antara Dua Cinta

Seorang Chairul tanjung, SBY, Jokowi, Abraham samad, dan beberapa orang sukses lainnya, punya satu kesamaan. Mereka punya istri dan ibu yang ‘akur,’ dengan satu visi misi yang sama. Istri ingin ‘membesarkan’ suami, sedangkan ibunya ingin ‘membesarkan’ anak. Orang-orang besar ini mampu menyatukan kepentingan istri tanpa meninggalkan baktinya pada ibu. Berbakti pada ibu, tapi tetap menghargai arti pentingnya istri. Padahal, jarang banget istri dan ibu mertua bisa sama-sama satu langkah.

Ketika Abraham samad dituding melakukan selingkuh, dengan berbekal sebuah photo, istri Abraham malah tidak percaya. Begitu pula, ketika ada yang manas-manasin pada ibunda Abraham. Ibunya malah lebih tidak percaya kalau anaknya se-bejat itu. Rupanya lagi-lagi benarlah ungkapan kalau dibalik laki-laki hebat, selalu ada perempuan-perempuan tangguh. Perempuan yang sholihah, ikhlas dalam beramal.

Begitu pula amal dakwah yang sedang aku evaluasi sekarang. Setidaknya sejak tahun 1999, aku pertama kali keluar 3 hari. Saat itu usiaku kira-kira baru 17 tahun.  Waktu itu, ibunda sangat khawatir jika aku main ke markaz untuk I’tikaf. Katanya khawatir ikut aliran sesat. Tapi beliau tidak khawatir jika jalan-jalan ke luar kota. Akhirnya aku bersama 2 orang temanku ke Bandung. Untuk keluar 3 hari.

Setelah pulang 3 hari langsung ngejos. Memang, pada hari kedua saja aku sudah pakai baju gamis full juga pakai imamah di kepala. Mirip banget kayak waliyullah. Ini karena aku sudah ngaji kalong (mondok) sejak kelas 3 SD. Kadangkala ibunda sangat senang melihatku dengan tampilan seperti itu. Namun kadang ia juga sedikit bingung. Apalagi kalau shalat sunnah rajin banget. Saking rajinnya lupa kalau sehabis ashar ga boleh sholat sunnah.

Rupanya amal maqomi yang bisa kujalankan hanya taklim rumah. Jaulah umumi belum bisa karena masih sendirian. Lalu keluar nisab 3 hari juga harus menunggu liburan sekolah. Lagi-lagi kalau ingin keluar 3 hari harus ke kota lain, dengan alasan jalan-jalan pada ibunda. Jalan-jalan untuk memperbaiki diri. Yup, akhirnya aku bisa keluar 3 hari lagi, tapi kali ini di Bogor (belakang IPB). Inilah dakwah. Jika ibunda belum faham betul soal usaha perbaikan diri ini, maka untuk keluar 3 hari saja harus keluar air mata banyak-banyak. Mengemis pada Allah Swt. 

Memang, ada sebuah hadis yang aku hafal betul dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulallah Saw bersabda dalam mafhumnya, kalau amalan yang paling disukai Allah Swt, yakni shalat tepat pada waktunya, berbakti pada orang tua, lalu jihad fi sabilillah. Ketika guru kami menerangkan hadis ini, bahwa ketaaatan soal amalan ini berbentuk tartib. Artinya derajat yang paling tinggi yakni sholat di awal waktu, lalu derajat berbakti pada orang menempati yang kedua. Jihad menjadi derajat terendah dari semua itu. Singkatnya jika aku ingin keluar 3 hari, tidak boleh dilakukan jika ibunda melarang.

Tidak putus di situ, akhirnya taklim rumah tetap kujalankan. Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga beberapa tahun, akhirnya ada perubahan. Ibunda merasa apa yang kuyakini bukan masalah sama sekali. Beberapa belas tahun kemudian, aku diperbolehkan untuk tetap nisab 3 hari seperti tahun-tahun ini. Namun begitu, aku harus minta ijin sama amir, untuk pulang 1-2 jam hanya sekedar hidmat di rumah. Bantu-bantu bersihkan rumah semampuku. Lalu kembali lagi. Karena tampaknya jika 1 hari saja tidak terlihat di rumah, bunda cemas. Sayap pertamaku pada bunda, bisa menopang dakwah berjalan. But, hingga sekarang aku belum dapat hingga lebih jauh lagi, lebih lama lagi.

Lalu sayap kedua. Istri. Sayap ini berada jauh di sana. Hampir beberapa tahun, ia tidak di rumah besertaku. Ia juga tidak pernah hadir dalam taklim rumah pagi hari sebelum berangkat ke kantor. Aku merasa dukungan dari sayap kedua hampir tidak ada. Ada suatu alasan mengapa ia mau di sini lagi. Akhirnya kutawarkan agar ada perempuan lain yang bisa tinggal serumah menjadi saudarinya. Aku akan berusaha bersikap adil dalam pembagian nafkah. Adil bukan berarti sama rata. Aku hanya menuntut agar calonku minimal hafal dua juz Qur’an. Tidak muluk-muluk soal rupa dan usia. Lebih bahagia lagi, kalau ia juga sudah pernah keluar masturah. Namun, ia belum mencarikan istri untuk suaminya dengan model kayak gini.

Semua itu kulakukan agar dua sayap mampu bisa mengantarkanku terbang lebih jauh. Seperti orang-orang sukses yang awal tulisan ini kusebutkan. Sukses dengan dukungan di antara dua cinta. Bacalah suratku jika itu dirimu.

Cintai aku karena Allah saja..

Wallahu a’lam bi ash-shawab.


Friday, 7 November 2014

REZEKI YANG SIFATNYA MEMAKSA

Allah Swt sudah menetapkan rezeki. Layaknya maut, jodoh, rezeki juga akan datang dengan cara memaksa. Walau pun kita menghindar, pergi jauh, rezeki akan mengejar kita.

Siang tadi saya keluar kantor menuju masjid, untuk sholat Jum'at. Setelah turun dari lift, ternyata bertemu dengan bos besar. Akhirnya kami berjalan bersama. Sesampainya di masjid, kami masuk ke tengah. Jarak saya dan bos agak berjauhan. Tapi kami sama-sama di dalam.

Jum'at usai. Setelah sholat sunnah, saya sempatkan untuk membuka Qur'an kecil yang biasa saya bawa di saku depan. Saya memperlama bacaan Qur'an agar bos saya tidak sabar. Dia pasti bosan, dan pasti kabur tunggang-langgang. Memang hari ini, saya kurang mood untuk ngobrol banyak dengan presiden direktur. Saya malu kalau makan selalu si bos yang bayar. Kalau saya keluarkan dompet, dia selalu merasa tersinggung. Dia memang terkenal ahli sedekah. Lagi pula, saya juga tidak punya janji untuk makan siang dengannya. Jadi saya teruskan bacaan Qur'an, dan niat saya sukses. Dia sudah meninggalkan masjid. Tengok kiri-kanan, dia benar-benar sudah lenyap rupanya. Kira-kira 20 menit berlalu. Setelah bacaan Qur'an, saya langsung ke kantin. Sambil berjalan, saya merasa menang telak, karena makan siang kali ini, tidak ada yang mengganggu. Masih tersisa 1 jam untuk sekedar mengisi perut.




Alangkah terkejutnya. Ternyata dia menunggu saya di kantin. Sendirian. Dengan nada agak kesal, dia memaksa saya untuk makan siang bersama. Pastinya semua bill makanan dia yang keluarkan dompetnya. Saya tidak bisa berkutik lagi. Sambil menyantap hidangan, hati saya terus terusik. Rupanya, kalau sudah rezeki kemana pergi pasti mengikuti. Walau kita sekuat tenaga menghindari.


Allah Swt Maha pemberi Rezeki. Maha Rozzak. Lewat bos besar, pemilik perusahaan, rezeki berupa makanan lezat mengalir dari hamba Allah yang satu ini. Walaupun tanpa diminta, walau saya lupa berdo'a untuk mendapatkan makanan.


Wallahu a’lam bi ash-shawab.